5 Karya Sastra Klasik Indonesia Yang Wajib Dibaca

0
51

Sulit memang untuk menyederhanakan menjadi hanya lima karya sastra klasik Indonesia yang perlu dibaca. Namun tanpa bermaksud menganaktirikan yang lain dan tanpa mengesampingkan bahwa selera tiap orang berbeda, kelima karya sastra berikut ini dipilih karena mengandung pesan kemanusiaan universal yang masih relevan dibaca hingga sekarang, meski kelimanya sudah puluhan tahun lalu diterbitkan.

1. Bumi Manusia ( Pramoedya Ananta Toer)
Bumi Manusia merupakan buku pertama dari tetralogi Pulau Buru yang mengisahkan perjuangan seorang pemuda intelektual Jawa bernama Minke di masa kolonialisme Belanda. Tokoh lain yang begitu legendaris adalah Nyai Ontosoroh,  perempuan dari strata rendah namun memiliki pengetahuan bahkan melampaui perempuan-perempuan Belanda. Naskahnya dibuat saat Pramoedya diasingkan di Pulau Buru. Karya ini ditulis diam-diam, disembunyikan, dan diceritakan dari mulut ke mulut hingga berhasil diselundupkan dan diterbitkan tahun 1975. Peredaran buku ini sempat dilarang di masa Orde Baru. Kini Bumi Manusia telah diterjemahkan ke lebih dari 30 bahasa dan menjadi karya terbesar Pramoedya Ananta Toer.

sumber: images.gr-assets

2. Orang-Orang Bloomington (Budi Darma)
Orang-orang Bloomington dianggap sebagai karya penting dan monumental Budi Darma. Delapan cerita di dalamnya ditulis pada periode akhir tahun 1970an, di saat Budi Darma sedang bersekolah di Bloomington, Amerika Serikat. Kisahnya tidak abstrak (berbeda dengan karya-karya lainnya yang sebenarnya juga tak kalah penting, sebut saja Olenka) dan menceritakan tingkah laku manusia sehari-hari. Namun menjadi istimewa berkat kehadiran karakter tokoh-tokohnya yang begitu membumi sekaligus misterius. Misalnya Orez, Joshua Karabish, hingga Charles Lebourne. Menghanyutkan!

sumber: images.gr-assets

3. Robohnya Surau Kami (AA Navis)
Berdialoglah Tuhan dengan Haji Saleh, seorang warga negara Indonesia yang selama hidupnya hanya beribadah dan beribadah. “Kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Sedang harta bendamu kau biarkan orang lain yang mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal di samping beribadat. Bagaimana engkau bisa beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk disembah saja, hingga kerjamu lain tidak memuji-muji dan menyembahku saja.” Itulah salah satu petikan paling kuat dalam cerpen Robohnya Surau Kami (terbit pertama kali tahun 1956) yang kontroversial sekaligus sarat perenungan. Kesembilan karya lainnya dalam kumpulan cerpen karya AA Navis ini juga tak kalah menggugat dan penuh kritik sosial.

sumber: goodreads

4. Anak Bajang Menggiring Angin (Sindhunata)
Novelisasi epik Ramayana ini awalnya dimuat di harian Kompas setiap hari Minggu di tahun 1981 sebelum akhirnya dibukukan. Sindhunata berhasil menghidupkan tokoh-tokoh wayang Ramayana  dengan caranya sendiri—puitis dengan  baris-baris perenungan di sana sini tentang nasib manusia yang seringkali absurd. Bagi yang tidak terlalu akrab dengan kisah Ramayana, jangan khawatir, Anda tetap bisa mengikuti dan menikmati alur cerita. Hingga saat ini buku ini sudah dicetak ulang belasan kali dan boleh jadi masterpiece dari Sindhunata.

sumber: wikimedia

5. Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari)
Novel yang terdiri dari tiga buku yang disatukan ini sempat difilmkan dengan judul Sang Penari tahun 2011 lalu. Berkisah tentang kisah cinta antara Srintil, seorang penari ronggeng dengan Rasus, teman semasa kecilnya yang kemudian berprofesi sebagai tentara dan berlatar tragedi 65. “Bahwa zaman berjalan sambil mengayun ke kiri dan ke kanan. Setelah Dukuh Paruk mencapai puncak kebanggaan, kini zaman mengayunkannya ke kurun yang membawa serta kebalikannya.”

sumber: wikimedia

Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda memiliki rekomendasi karya sastra klasik Indonesia lainnya yang layak dibaca?

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY