DRAMA CORONA, PAGEBLUK ERA MILENIAL

0
1137

Teringat kembali memori masa kecil bersama pak Puh dan bu Puh, sebutan untuk kakek dan nenek dari ayah saya. Kami sekeluarga tinggal serumah karena pak Puh dan bu Puh menginginkan ayah tetap di rumahnya untuk selalu menjaga dan merawatnya, tidak boleh beli tanah atau rumah di tempat lain.

Suatu sore di pertengahan tahun 1983, seperti hari-hari biasa, saya selalu duduk dekat-dekat dengan pak Puh dan bu Puh untuk menjadi pendengar yang baik saat beliau berdua bercerita tentang segudang pengalaman hidup yang tidak ada habisnya. Mulai dari masa penjajahan Belanda, Jepang, huru hara semasa awal kemerdekaan dan sebagainya. Cerita dari beliau yang masih berkesan hingga sekarang adalah tentang pagebluk, sebuah istilah yang sangat asing dan menakutkan kala itu. Beliau bercerita tentang sebuah kejadian di masa penjajahan Belanda, banyak penduduk yang meninggal tanpa diketahui sebabnya, tiba-tiba sakit dan akhirnya meninggal dunia. Diawali oleh sebuah pertanda yaitu seekor ular besar yang masuk ke rumah dan lewat begitu saja di bawah kaki-kaki kursi dan meja tempat pak Puh dan bu Puh yang sedang lenggah. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, jika ada pertanda seperti itu, dipastikan akan segera terjadi peristiwa yang nggegirisi. Benar juga, tidak lama kemudian terjadi peristiwa kematian demi kematian mendadak seperti yang disebutkan di atas.

Memori masa kecil saya langsung meronta-ronta, mendesak untuk dikenang sejak diumumkan adanya virus corona yang mulai ikut nimbrung di negara kita. Pagebluk….ya…pagebluk….cerita dari pak Puh dan bu Puh akhirnya saya alami sendiri. Saya berpikir kalau jaman dahulu memang ilmu kedokteran belum maju sehingga banyak yang tidak tertolong nyawanya. Tetapi kenyataannya, sampai saat ini pun belum ada vaksin yang tepat untuk corona ini. Beberapa literatur yang saya baca lebih mengejutkan lagi, masih banyak penyakit yang belum ditemukan vaksin atau obatnya hingga saat ini. Sebut saja AIDS yang sudah bertahun-tahun dikenal, juga belum ditemukan obatnya, disusul MERS, SARS dan akhirnya corona. Terbukti di negara-negara maju tingkat kematian malah sangat tinggi melebihi tingkat kematian di negara Tiongkok, asal mula virus ini. Jauh dari bayangan saya hingga detik ini, jika negara maju dan bahkan adidaya sudah sangat maju dunia kedokterannya, sehingga akan lebih mudah mengobati pasien-pasiennya.

Tindakan umum di semua negara adalah menghimbau agar masyarakatnya melakukan physical distancing, isolasi mandiri di rumah masing-masing, memakai masker jika ke luar rumah, dilarang bepergian ke tempat-tempat yang ramai, dilarang menuju ke zona merah dan sebagainya. Benar, ada pasien yang sembuh dari virus ini karena memang imunitasnya yang baik, ditunjang dengan pengawasan petugas kesehatan yang selalu mendampingi. Ada yang menyebutkan bahwa yang lebih berbahaya adalah pasien yang tidak menunjukkan gejala sakit tetapi ada virus di tubuhnya dan berpotensi besar menularkan ke orang lain atau biasa disebut OTG (Orang Tanpa Gejala). Kebanyakan OTG adalah yang masih usia muda, imunitas bagus sehingga tidak merasakan sakit sama sekali.

Banyak orang yang berbeda pendapat mengenai bahaya corona. Ada yang biasa saja, takut, bahkan ketakutan. Persepsi orang juga sangat dipengaruhi oleh banyaknya berita-berita di media terutama media online, melalui pesan berantai, terlepas dari benar dan tidaknya berita tersebut. Semua kejadian di dunia ini saya yakin tidak ada yang kebetulan, sekecil apapun itu. Alloh SWT telah berkehendak. Menurut guru agama saya waktu SD dulu, kita sebagai makhluk ciptaan Alloh wajib berusaha dan tidak boleh hanya pasrah apalagi berputus asa karena itu adalah dosa. Pak Guru mencontohkan cerita waktu mengajar, bahwa Rasululloh SAW saja jika berperang tetap memakai strategi, tidak hanya pasrah bongkokan yang penting maju perang karena yakin akan perlindungan Alloh. Tidak. Beliau tetap berusaha dengan menggunakan strategi perang yang matang yang dimusyawarahkan bersama sahabat-sahabatnya. Setelah itu baru bertawakal kepada Alloh, berserah diri setelah berusaha. Ada lagi cerita dari pak Guru agama saya yaitu cerita seorang sahabat Nabi SAW, Anas bin Malik, pada suatu hari ada seorang laki-laki berhenti di depan masjid untuk mendatangi Rasululloh. Unta tunggangannya dilepas begitu saja tanpa ditambat. Rasululloh bertanya, ”Mengapa unta itu tidak diikat?” Lelaki itu menjawab, ”Saya lepaskan unta itu karena saya percaya pada perlindungan Alloh SWT.” Maka Rasululloh menegur secara bijaksana, ”Ikatlah unta itu, sesudah itu barulah kamu bertawakal.” Lelaki itu pun lalu menambatkan unta itu di sebuah pohon kurma. Suatu penjelasan yang gamblang mengenai tawakal telah diberikan Rasululloh lewat peristiwa itu. Bahwa sesudah manusia berusaha, lalu menyerahkan hasilnya pada ketentuan Alloh, itulah tawakal menurut ajaran Islam.

Sangatlah perlu kiranya kita semua menaati himbauan pemerintah untuk tetap di rumah saja selama wabah ini (istilah dari pak Puh dan bu Puh pagebluk) sebagai salah satu bentuk usaha kita sebagai manusia, makhluk ciptaan Alloh selain himbauan-himbauan yang lain seperti menggunakan masker, tidak berkerumun dan tidak melakukan perjalanan jauh. Kita semua tidak tahu akhir dari drama corona ini. Apakah berhasil ditemukan obat atau vaksinnya, pergi begitu saja atau bahkan kita harus berdamai dengan virus ini dengan kebiasaan-kebiasaan baik yang diajarkan oleh virus ini, seperti harus selalu rajin menjaga kebersihan dan kesehatan atau memakai masker setiap hari di luar rumah sebagai simbol tidak perlu banyak berbicara jika tidak perlu.

Akhirnya, lirik lagu Masih Ada Waktu karya Ebiet G Ade, semoga bisa lebih menyadarkan kita semua, terutama diri saya sendiri.

(Lab komputer 3, di sela kegiatan support IT kegiatan PAT 2020)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY