Kisah SMAN 1 DOLOPO dari ANGKATAN 30

0
1532

Kami dari Pandu Smandoma ingin memposting sebuah tulisan yang telah terpikirkan sejak lama. Ngomong-ngomong soal sekolah, SMA Negeri 1 Dolopo punya banyak cerita, mulai dari sejak awal berdirinya sekolah sampai dengan sekarang ini.

SMAN 1 Dolopo yang kita lihat sekarang ini tidaklah seperti SMAN 1 Dolopo yang dulu. Sekolah ini punya kisah yang manis maupun kisah yang agak pahit. Sebelum bercerita tentang kisah perjalanan sekolah ini, SMAN 1 Dolopo punya hal yang sedikit aneh, yaitu tentang nama julukan sekolah.Sekolah ini punya julukan khusus, yaitu “SMA Saur”. Banyak spekulasi tentang kenapa SMAN 1 Dolopo mendapat nama saur. Ada yang beranggapan bahwa pada saat bulan puasa, lebih tepatnya lagi pada saat orang-orang melaksanakan sahur, banyak orang-orang yang berkumpul di sekitar sekolah ini, dan masih banyak lagi spekulasi tentang hal ini. Bahkan pengalaman saya sendiri, orang-orang diluar Kecamatan Dolopo terlebih lagi para orang yang sepuh atau sudah lanjut usia, Mereka tidak mengenal atau tidak mengetahui sekolah dengan nama SMAN 1 Dolopo. Setelah saya bilang “SMA Saur mbah..” mereka baru tahu dimana tempat saya sekolah saat ini.

Untuk kisah perjalanan sekolah yang berdiri pada tahun 1986 ini dulunya adalah sekolah yang pernah di cap oleh masyarakat Dolopo dan sekitarnya sebagai “sekolah pendekar”, karena dulunya memang murid-murid SMAN 1 Dolopo banyak yang ikut dalam perguruan pencak silat walaupun tidak semuanya mengikuti, SMAN 1 Dolopo ini dulunya terkenal dengan kenakalan para siswa-siswinya. Walaupun tidak semuanya nakal, tetapi para siswa-siswi yang baik dan berprestasi ini tertutup dengan perilaku siswa-siswi SMAN 1 Dolopo yang nakal, Sehingga itulah kenapa sekolah ini di sebut atau dicap sebagai sekolah para pendekar, bahkan dicap sebagai sekolah para anak-anak nakal.Secara tidak langsung, hal tersebut mempengaruhi jumlah siswa yang ingin mendaftar di SMAN 1 Dolopo, karena sekolah telah dianggap mempunyai reputasi buruk oleh masyarakat sekitar sekolah ini.
Bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. SMAN 1 Dolopo mulai berbenah diri. Berbagai usaha mulai dilakukan oleh pihak sekolah agar SMAN 1 Dolopo tidak di anggap sebagai sekolah para anak-anak nakal. Usaha tersebut antara lain dengan cara memperbaiki dan memperketat peraturan dan tata tertib di sekolah, membiasakan bersalaman dengan bapak ibu guru, mematikan dan menuntun sepeda motor ketika tiba di pintu gerbang parkir, pembiasaan sholat sunnah dan sholat dhuhur berjamaah,dsb. Dengan segala hal yang telah di upayakan tersebut, label sebagai “sekolah anak nakal” ini mulai menghilang. Namun tidak serta merta membuat masyarakat di sekitar sekolah ini menganggap bahwa sekolah ini sudah baik. Tetap ada saja masyarakat yang menganggap bahwa SMAN 1 Dolopo masih seperti yang dulu. Bahkan ada yang mengatakan “Arep dadi opo tho sekolah ning saur ki..”. Pihak sekolah pun tidak mengenal kata menyerah. Mereka terus berupaya untuk menghilangkan label yang kurang baik untuk sekolah ini. Buktinya, pada saat ulang tahun sekolah atau biasa disebut dies natalies ke-28 dan 29, SMAN 1 Dolopo mengadakan pengajian pada malam hari di lapangan tengah sekolah yang biasanya digunakan untuk upacara.
Untuk mensukseskan acara ini, pihak sekolah bahkan mengundang Polsek Dolopo, Koramil Dolopo dan Barisan Anshor Serbaguna(Banser) Anak Cabang Dolopo yang merupakan sayap dari PAC.GP Anshor Dolopo. Instansi yang diundang tersebut bertugas sebagai keamanan maupun pengatur lalu lintas di jalan raya Suluk-Dolopo. Pada saat dies natalies sekolah ke-29, saya iseng menghitung jumlah anggota yang bertugas. Jika saya ingat-ingat (soalnya udah agak lupa), jumlah personel yang bertugas kurang lebih ada 10 orang. Seingat saya terdiri atas 4 personel Banser, 3 personel polisi, dan 3 personel tentara. Saat pertama kali dilaksanakan, pengajian akbar ini pun cukup ramai, karena pihak sekolah mengadakan acara pengajian ini untuk umum. Siapa saja boleh mengikuti pengajian ini, dan pihak sekolah pun juga menyediakan makanan ringan untuk para masyarakat yang berkunjung ke pengajian ini. Lapangan upacara sekolah yang digunakan untuk pengajian ini pun bahkan tidak sanggup untuk menampung para jama’ah yang menghadiri pengajian akbar ini, padahal lapangan upacara SMAN 1 Dolopo sudah termasuk luas. Bahkan para jama’ah pengajian pun sampai meluber sampai depan halaman sekolah yang dekat dengan pintu gerbang sekolah sebelah timur. Untung saja pihak sekolah sudah mengantisipasi hal ini, yaitu dengan menyediakan proyektor untuk para jama’ah pengajian yang berada di halaman sekolah bagian luar. Sehingga para jama’ah yang agak jauh pun bisa melihat wajah dari mubaligh yang mengisi di acara pengajian ini. 
Dalam pengajian ini pun juga terdapat selingan atau hiburan dari grup musik electone dan grup habsy dari siswa-siswi SMAN 1 Dolopo sembari menunggu mubaligh naik ke mimbar atau panggung yang telah disediakan. Soal grup habsy SMAN 1 Dolopo, untuk para anggotanya murni dari para siswa-siswi SMAN 1 Dolopo. Kualitasnya pun tidak mau kalah dengan para grup habsy yang telah berdiri lebih dahulu. Grup habsy SMAN 1 Dolopo ini berdiri sekitar awal tahun ajaran sekolah 2015/2016 dan bersamaan dengan dibentuknya ekstrakurikuler baru di sekolah ini, yaitu ekstrakurikuler Kerohanian Islam atau yang biasa disingkat sebagai ekstra Rohis. Siswa-siswi SMAN 1 Dolopo pun sebetulnya sudah cukup banyak yang menguasai habsy. Namun untuk mematangkan olah vokal dan musik para anggota grup habsy ini, pihak sekolah pun mendatangkan seorang pelatih untuk membina grup habsy SMAN 1 Dolopo ini agar menjadi lebih baik lagi. Grup habsy SMAN 1 Dolopo ini tidak hanya tampil untuk acara-acara di dalam sekolah saja, tetapi grup habsy ini pun sudah pernah tampil sebagai pengiring atau hiburan di pengajian dan pernah juga mengikuti kejuaraan lomba grup habsy di wilayah Madiun.
Tunggu kisah-kisah SMAN 1 Dolopo yang selanjutnya…

(BRD/25)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY