BELAJAR DARI FILOSOFI KI HAJAR DEWANTARA

0
126
Bapak Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara

Pemikiran besar tentang pendidikan dilahirkan dari buah karya sang legenda Ki Hajar Dewantara yang menjadi panutan pendidikan di Indonesia dan sangat melekat di benak masyarakat Indonesia terutama para pendidik. Beliau mencetuskan sebuah semboyan Ing ngarso sung tulodho (di depan memberi teladan), Ing madya mangun karso (di tengah membangun semangat, kemauan), dan Tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan) yang kini menjadi insiprasi serta panutan besar bagi kalangan pendidik dalam dunia pendidikan. Bahkan, jika kita renungkan dari sejarah beliau merancang pendidikan, maka semboyan legendaris tersebut lahir dari rentetan pemikiran beliau dalam upaya memajukan pendidikan bagi Bangsa Indonesia.

Pendidikan dan pengajaran tidak dapat dipisahkan, karena Menurut Ki Hajar Dewantara (KHD), pengajaran (onderwijs) adalah bagian dari Pendidikan dimana pengajaran merupakan proses pendidikan dalam memberi ilmu untuk kecakapan hidup anak secara lahir dan batin. Sedangkan Pendidikan  (opvoeding) memberi tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Ki Hajar Dewantara memiliki keyakinan bahwa untuk menciptakan manusia Indonesia yang beradab maka pendidikan menjadi salah satu kunci utama untuk mencapainya.

Sebelum saya mempelajari modul 1.1 dalam LMS pendidikan Calon Guru Penggerak angakatan 5, yang saya percaya tentang murid dan pembelajaran saya di kelas hanya mengarah pada bagaimana tujuan pembelajaran setiap KD bisa tercapai dan tepat sesuai dengan kalender pendidikan serta perencanaan yang sudah dirancang didalam Perangkat Pembelajaran, sehingga pembelajaran yang saya berikan masih jauh dari apa yang menjadi pemikiran dari Ki Hajar Dewantara, banyak sekali siswa saya ketika saya memberikan pembelajaran selalu tidak bersemangat dan susah untuk focus, apalagi ketika mapel saya pendidikan pancasila dan kewarganegaraan diberikan pada jam terakhir, banyak sekali siswa tak bersemangat dan terlihat bosan. Ini yang membuat saya selalu mengefaluasi apa yang terjadi disetiap kelas pada saat jam pelajaran yang saya berikan, sehingga menuntut saya harus melakukan sebuah perubahan serta menemukan model ataupun metode yang baik untuk bisa saya terapkan pada pembelajaran di kelas saya, sehingga tidak ada lagi ketika saya memberikan pembelajaran pendidikan pancasila dan kewarganegaraan ada siswa yang tidak fokus serta merasa bosan.

Pemikiran serta filosofi pendidikan dari KHD yang saya pelajari pada modul 1.1 pendidikan Calon Guru Penggerak ini mengajarkan kepada saya bahwa seorang Pendidik diibaratkan seperti Petani atau tukang kebun yang tugasnya adalah merawat sesuai kebutuhan dari tanaman-tanamannya agar tumbuh dan berbuah dengan baik, tentu saja beda jenis tanaman beda perlakuanya, dimana kita sebagai seorang pendidik harus bisa melayani segala bentuk  kebutuhan metode belajar siswa yang berbeda-beda (berorientasi pada anak). Kita harus bisa memberikan kebebasan kepada anak untuk mengembangkan ide, berfikir kreatif, mengembangkan bakat/minat siswa (merdeka belajar), tapi kebebasan itu bukan berarti kebebasan mutlak, perlu  tuntunan dan arahan dari Guru supaya anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya nanti ketika terjun di masyarakat. Tentunya kita sebagai pendidik harus tetap terbuka dan mengikuti perkembangan zaman yang tetap menyesuaikan dengan budaya lokal, dimana budaya lokalpun memiliki kultur yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar.

Perkembangan zaman dalam pendidikan yang dimaksud disini adalah kita sebagai Guru haruslah membekali keterampilan kepada siswa kita sesuai zamannya agar mereka bisa hidup, berkarya dan menyesuaikan diri dengan lingkunganya, memberikan ketrampilan serta kecakapan abad 21 kepada siswa melalui pembelajaran dikelas maupun diluar kelas, kita memfasilitasi siswa kita untuk bisa mencari sebuah materi dengan menggunakan gadget/handphone mereka masing – masing, tentunya tetap dengan pengawasan kita sebagai guru, sehingga materi yang mereka dpatkan bisa luas dan tak hanya berpusat pada buku paket yang diberikan dari sekolah. Disatu sisi dengan penggunaan teknologi menjadi hal baru bagi peserta didik, disamping itu kita sebagai guru juga bisa mengembangkan pembelajaran kita degan memanfaatkan teknologi yang ada. Sehingga pembelajaran kita lebih menarik dan membuat siswa tidak merasa bosan. Ini sejalan dengan apa yang menjadi pemikiran KHD, bahwa dasar pendidikan anak berhubungan dengan Kodrat Alam dan Kodrat Zaman. Kodrat Alam berkaitan dengan sifat dan bentuk lingkungan di mana anak berada, yang dimaksud adalah anak yang berada pada kemajuan teknologi yang menuntut mereka untuk trampil dan cakap. sedangkan Kodrat Zaman berkaitan dengan isi dan irama, Artinya bahwa setiap anak sudah membawa sifat atau karakternya masing-masing, jadi kita sebagai Pendidik tidak bisa menghapus sifat dasar siswa yang ingin bermain, salah satunya game online dan permainan – permainan online lainya. yang bisa dilakukan sebagai pendidik adalah menunjukan, membimbing serta menuntun mereka agar muncul sifat – sifat baik mereka untuk lebih bijak dalam memanfaatkan teknologi sehingga menutupi / mengaburkan sifat – sifat jelek mereka yang bergantung kepada gadget/handphone yang berlebih bukan untuk belajar melainkan bermain game online.

Pembelajaran memanfaatkan kecanggihan teknologi

Disinilah perubahan pembelajaran harus saya lakukan sebagai pendidik, setelah memahami dasar dsar pemikiran serta filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara dimana pendidikan harus sesuai dengan kodrat anak, bermain adalah kodrat anak yang harus kita timbulkan di kelas kita, dengan memberikan sebuah permainan yang menarik tapi tetap terhubung dengan materi pembelajaran kita, sehingga permainan didalam kelas menjadi bagian pembelajaran di sekolah, karena disitulah pikiran, perasaan kemauan, tenaga (cipta, rasa dan karsa) anak terasah. Selaian itu saya juga harus memberikan pendidikan atau pembelajaran yang berpihak kepada anak, dimana saya sebagai pendidik dengan suci hati tanpa ada ikatan mendekatai anak, berusaha memahami mereka bukan karena saya ingin meminta hak saya sebagai pendidik melainkan untuk menghamba kepada siswa, mengikuti apa yang menjadi keinginan mereka dalam melakukan pembelajaran di kelas, agar mereka merasa nyaman dengan kondisi yang ditimbulkan serta ada rasa kegembiraan yang akan mereka kenang serta membekas dalam pikiran mereka. Sehingga siswa tidak lagi takut terhadap salah satu atau beberpa guru, namun tetap menghormati guru. Guru dan murid haruslah bisa saling berkolaborasi menganalisis/menciptakan kedalaman (rasa takjub dan kasmaran) spiritual, intelektual dan sosial untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai manusia sehingga dapat mewujudkan Student Wellbeing pada diri masing masing siswa kami di SMAN 1 Dolopo Kabupaten Madiun Khususnya.

Pendidikan dapat menuntun segala kodrat yang ada pada anak – anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi – tingginya baik sebagai manusia, maupun anggota masyarakat.

TERGERAK, BERGERAK, MENGGERAKKAN

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY